Senin, 23 Maret 2015

LAPORAN PENDAHULUAN

CKD (Chronik Kidney Desease)

 

A.      PENGERTIAN

Chronik Kidney Desease adalah : gangguan fungsi renal yang progresif dan irreversible dimana kemampuan tubuh gagal untuk memperhatikan metabolisme keseimbangan cairan dan elektrolit menyebabkan uremia (retensi urea dan sampah nitrogen lain dalam darah). (Brunner & Suddarth. 2002).

Chronik Kidney Desease biasanya akibat akhir dari kehilangan fungsi ginjal lanjut secara bertahap. Penyebab termasuk glomerulonefritis, infeksi kronis dan penyakit vaskular , penyakit agen nefrotik dan penyakit endokrin (Marlynn E. Doenges. 2000)

 

B.       ETIOLOGI

Gagal ginjal kronik merupakan suatu keadaan klinis kerusakan ginjal yang progresif dan irreversible dari berbagai penyebab. Sebab-sebab gagal ginjal kronik yang sering ditemukan dapat dibagi menjadi delapan kelas.

Klasifikasi sebab-sebab gagal ginjal kronik :

a.       Infeksi                                                  :    Pielonefritis kronik

b.       Penyakit peradangan                            :    Glomerulonefritis

c.        Penyakit vascular hipertensi                 :    Nefrosklerosis benigna, nefrosklerosis maligna, stenosis                                                                                arteria renalis.

d.       Gangguan jaringan penyambung          :    Lupus eritematosus sistemik, Poliarteritis nodosa, sklerosis                                                               sistemik progresif.

e.        Gangguan kongerital dan hereditas      :    Penyakit ginjal polikistik, asidosis tubulus ginjal.

f.        Penyakit metabolic                               :    Diabetes mellitus, gout, hiperparatiroidisme, amiloidosis.

g.        Nefropati toksik                                   :    Penyalahgunaan analgesik, nefropati timbale

h.       Nefropati obstruktif                             :    Saluran kemih bagian atas kalkuli, neoplasma,

                                                                  fibrosisretroperitoneal.

i.         Saluran kemih bagian bawah                :    hipertropi prostate, struktur urea, anomaly kongenital pada

                                                                  leher kandung kemih dan uretra.

 

C.      KLASIFIKASI

Gagal ginjal kronik dibagi 3 stadium :

a.        Stadium I

Penurunan cadangan ginjal, kreatinin serum dan kadar BUN normal, asimptomatik, tes beban kerja pada ginjal: pemekatan kemih, tes GFR

b.        Stadium II

Insufisiensi ginjal, kadar BUN meningkat (tergantung pada kadar protein dalam diet), kadar kreatinin serum meningkat, nokturia dan poliuri (karena kegagalan pemekatan). Ada 3 derajat insufisiensi ginjal:

1)        Ringan          : 40% - 80% fungsi ginjal dalam keadaan normal

2)        Sedang          : 15% - 40% fungsi ginjal normal

3)        Kondisi berat            : 2% - 20% fungsi ginjal normal

c.        Stadium III

Gagal ginjal stadium akhir atau uremia, kadar ureum dan kreatinin sangat meningkat, ginjal sudah tidak dapat menjaga homeostasis cairan dan elektrolit, air kemih/urin isoosmotis dengan plasma, dengan BJ 1,010 (Smeltzer,2001).

K/DOQI merekomendasikan pembagian CKD berdasarkan stadium dari tingkat penurunan LFG :

a.       Stadium 1    :    kelainan ginjal yang ditandai dengan albuminaria persisten dan LFG yang masih

                          normal ( > 90 ml / menit / 1,73 m2)

b.       Stadium 2    :    Kelainan ginjal dengan albuminaria persisten dan LFG antara 60-89 mL/menit/1,73                                    m2

c.        Stadium 3    :    Kelainan ginjal dengan LFG antara 30-59 mL/menit/1,73m2

d.       Stadium 4    :    Kelainan ginjal dengan LFG antara 15-29mL/menit/1,73m2

e.        Stadium 5    :    Kelainan ginjal dengan LFG < 15mL/menit/1,73m2 atau gagal ginjal terminal.

 

D.      MANIFESTASI KLINIS

Manifestasi klinik menurut (Smeltzer, 2001) antara lain : hipertensi, (akibat retensi cairan dan natrium dari aktivitas sisyem renin - angiotensin - aldosteron), gagal jantung kongestif dan udem pulmoner (akibat cairan berlebihan) dan perikarditis (akibat iriotasi pada lapisan perikardial oleh toksik, pruritis, anoreksia, mual, muntah, dan cegukan, kedutan otot, kejang, perubahan tingkat kesadaran, tidak mampu berkonsentrasi).

Manifestasi klinik menurut Suyono (2001) adalah sebagai berikut:

a.        Gangguan kardiovaskuler

Hipertensi, nyeri dada, dan sesak nafas akibat perikarditis, effusi perikardiac dan gagal jantung akibat penimbunan cairan, gangguan irama jantung dan edema.

b.       Gangguan Pulmoner

Nafas dangkal, kussmaul, batuk dengan sputum kental dan riak, suara krekels.

c.        Gangguan gastrointestinal

Anoreksia, nausea, dan fomitus yang berhubungan dengan metabolisme protein dalam usus, perdarahan pada saluran gastrointestinal, ulserasi dan perdarahan mulut, nafas bau ammonia.

d.       Gangguan musculoskeletal

Resiles leg sindrom (pegal pada kakinya sehingga selalu digerakan), burning feet syndrom (rasa kesemutan dan terbakar, terutama ditelapak kaki), tremor, miopati (kelemahan dan hipertropi otot – otot ekstremitas)

e.        Gangguan Integumen

kulit berwarna pucat akibat anemia dan kekuning – kuningan akibat penimbunan urokrom, gatal – gatal akibat toksik, kuku tipis dan rapuh.

f.        Gangguan endokrin

Gangguan seksual : libido fertilitas dan ereksi menurun, gangguan menstruasi dan aminore. Gangguan metabolic glukosa, gangguan metabolic lemak dan vitamin D.

g.       Gangguan cairan elektrolit dan keseimbangan asam dan basa

biasanya retensi garam dan air tetapi dapat juga terjadi kehilangan natrium dan dehidrasi, asidosis, hiperkalemia, hipomagnesemia, hipokalsemia.

h.       System hematologi

anemia yang disebabkan karena berkurangnya produksi eritopoetin, sehingga rangsangan eritopoesis pada sumsum tulang berkurang, hemolisis akibat berkurangnya masa hidup eritrosit dalam suasana uremia toksik, dapat juga terjadi gangguan fungsi trombosis dan trombositopeni.

 

E.       PEMERIKSAAN PENUNJANG

1.      Radiologi

Ditujukan untuk menilai keadaan ginjal dan menilai derajat dari komplikasi yang terjadi

2.      Foto polos abdomen

Untuk menilai bentuk dan besar ginjal apakah ada batu atau obstruksi lain. Dehidrasi akan memperburuk keadaan ginjal oleh sebab itu klien diharapkan tidak puasa

3.      IVP (intra Vena Pielografi)

Untuk menilai system pelviokalises dan ureter. Pemeriksaan ini mempunyai resiko penurunan faal ginjal pada keadaan tertentu, missal: usia lanjut, DM, dan nefropati asam urat

4.      USG

Untuk menilai besar dan bentuk ginjal, tebal parenkim ginkal, kepadatan parenkim ginjal, anatomi system pelviokalises, ureter proksimal, kandung kemih serta prostat

5.      Renogram

Untuk menilai fungsi ginjal kanan dan kiri, lokasi dari gangguan (vaskuler, parenkim, ekskresi), serta sisa fungsi ginjal

6.      Pemeriksaan radiologi jantung : untuk mencari kardiomegali, efusi perikardial

7.      Pemeriksaan radiologi paru : untuk mencari uremik lung yang dianggap sebagai bendungan

8.      EKG, untuk melihat kemungkinana hipertropi ventrikel kiri, tanda perikarditis, aritmia, hiperkalemia

9.      Pemeriksaan laboratorium

1)       Pemeriksaan Urine

a)       Volume : Biasanya kurang dari 400 ml / 24 jam atau urine tak ada (anuria)

b)       Warna : Secara abnormal urine keruh mungkin disebabkan oleh pus bakteri, lemah, partikel koloid, fosfat atau urat.

c)       Berat jenis : Kurang dari 1,05 (menetap pada 1,010 menunjukkan kerusakan ginjal berat).

d)      Osmolaritas : Kurang dari 300 mosm / kg menunjukkan kerusakan tubular dan rasio urine serum sering 1 : 1.

e)       Klirens Kreatinin : Mungkin agak menurun.stadium satu CCT(40-70ml/menit), stadium kedua, CCT (20-40ml/menit) dan stadium ketiga, CCT(5 ml/menit)

f)        Natrium : Lebih besar dari 40 g/dl, karena ginjal tidak mampu mereabsorpsi natrium. (135-145 g/dL)

g)       Protein : Derajat tinggi proteinuria (3 – 4 + ) secara kuat menunjukkan kerusakan glomerulus bila SDM dan fragmen juga ada.

2)       Darah

a)       BUN/Kreatinin : Meningkat, biasanya meningkat dalam proporsi, kadar kreatinin 10 mg/dl. Diduga batas akhir mungkin rendah yaitu 5

b)       Hitung darah lengkap : Ht namun pula adanya anemia Hb : kurang dari 7 – 8 9/dl, Hb untuk perempuan (13-15 g/dL), laki-laki (13-16 g/dL)

c)       SDM : Waktu hidup menurun pada defesiensi eriropoetin seperti pada azotemia.

3)       GDA

a)       PH : penurunan asidosis (kurang dari 7,2) terjadi karena kehilangan kemampuan ginjal untuk mengekskresi hidrogen dan amonia atau hasil akhir katabolisme protein. Bikarbonat menurun PCO2 menurun natrium serum mungkin rendah (bila ginjal ”kehabisan” natrium atau normal (menunjukkan status difusi hipematremia)

b)       Kalium : Peningkatan normal (3,5- 5,5 g/dL) sehubungan dengan rotasi sesuai dengan perpindahan selular (asidosis) atau pengeluaran jaringan (hemolisis SDM) pada tahap akhir pembahan EKG mungkin tidak terjadi sampai umum gas mengolah lebih besar.

c)       Magnesium / fosfat meningkat di intraseluler : (27 g/dL), plasma (3 g/dL), cairan intersisial (1,5 g/dL).

d)      Kalsium : menurun. Intra seluler (2 g/dL), plasma darah (5 g/dL), cairan intersisial (2,5 g/dL)

e)       Protein (khususnya albumin 3,5-5,0 g/dL) : kadar semua menurun dapat menunjukkan kehilangan protein melalui urine pemindahan cairan penurunan pemasukan atau penurunan sintesis karena asam amino esensial.

f)        Osmolalitas serum : lebih besar dari 285 mos m/kg. Sering sama dengan urine Kub Foto : menunjukkan ukuran ginjal / ureter / kandug kemih dan adanya obstruksi (batu)

g)       Pielogram retrograd : Menunjukkan abnormalitas pelvis ginjal dan ureter

 

F.       PENATALAKSANAAN

Menurut Sylvia Price (2000) adalah sebagai berikut :

a.         Penatalaksanaan Medis

1)        Obat anti hipertensi yang sering dipakai adalah Metildopa (Aldomet), propanolol dan klonidin. Obat diuretik yang dipakai adalah furosemid (lasix).

2)        Hiperkalemia akut dapat diobati dengan pemberian glukosa dan insulin intravena yang memasukan K+ ke dalam sel, atau dengan pemberian kalsium glukonat 10% intravena dengan hati-hati sementara EKG terus diawasi. Bila kadar K+ tidak dapat diturunkan dengan dialisis, maka dapat digunakan resin penukar kation natrium polistiren sulfonat (Kayexalate).

3)        Pengobatan untuk anemia yaitu : rekombinasi eritropoetin (r-EPO) secara meluas, saat ini pengobatan untuk anemia uremik : dengan memperkecil kehilangan darah, pemberian vitamin, androgen untuk wanita, depotestoteron untuk pria dan transfusi darah.

4)        Asidosis dapat tercetus bilamana suatu asidosis akut terjadi pada penderita yang sebelumnya sudah mengalami asidosis kronik ringan, pada diare berat yang disertai kehilangan HCO3. Bila asidosis berat akan dikoreksi dengan pemberian pemberian NaHCO3 parenteral.

5)        Dialisis : suatu proses dimana solut dan air mengalir difusi secara pasif melalui suatu membran berpori dari suatu kompartemen cair menuju kompartemen lainnya.

6)        Dialisis peritoneal : merupakan alternatif dari hemodialisis pada penanganan gagal ginjal akut dan kronik.

7)        Pada orang dewasa, 2 L cairan dialisis steril dibiarkan mengalir ke dalam rongga peritoneal melalui kateter selama 10-20 menit. Biasanya keseimbangan cairan dialisis dan membran semipermeabel peritoneal yang banyak vaskularisasinya akan tercapai setelah dibiarkan selama 30 menit.

8)        Transplantasi ginjal : prosedur standarnya adalah memutar ginjal donor dan menempatkannya pada fosa iliaka pasien sisi kontralateral. Dengan demikian ureter terletak di sebelah anterior dari pembuluh darah ginjal, dan lebih mudah dianastomosis atau ditanamkan ke dalam kandung kemih resipien.

b.        Penatalaksanaan Keperawatan

Mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit, penimbangan berat badan setiap hari, batasi masukan kalium sampai 40-60 mEq/hr, mengkaji daerah edema.

c.         Penatalaksanaan diit

Tinggi karbohidrat, rendah protein, rendah natrium, batasi diit rendah protein sampai mendekati 1 g / kg BB selama fase oliguri. Untuk meminimalkan pemecahan protein dan untuk mencegah penumpukan hasil akhir toksik. Batasi makanan dan cairan yang mengandung kalium dan fosfor (pisang, buah dan jus-jusan serta kopi).

d.        Terapi Pengganti

1.        Hemodialisa

Terapi hemodialisa merupakan teknologi tinggi sebagai terapi pengganti untuk mengeluarkan sisa-sisa metabolisme atau racun tertentu dari peredaran darah manusia seperti air, natrium, kalium, hidrogen, urea, kreatinin, asam urat, dan zat-zat lain melalui membran semi permiabel sebagai pemisah darah dan cairan dialisat pada ginjal buatan dimana terjadi proses difusi, osmosis dan ultrafiltrasi (Brunner & Suddarth, 2002).

Tujuan Hemodialisa adalah untuk mengambil zat-zat nitrogen yang toksik dari dalam darah dan mengeluarkan air yang berlebihan. Pada hemodialisa, aliran darah yang penuh dengan toksik dan limbah nitrogen dialihkan dari tubuh pasien ke dialiser tempat darah tersebut dibersihkan dan kemudian dikembalikan lagi ke tubuh pasien (Brunner & Suddarth, 2002).

2.        CAPD (continous Ambulatory Peritoneal Dialysis)

CAPD adalah salah satu treatment yang tersedia dan digunakan untuk membuang produk sisa dan kelebihan cairan dari darah ketika fungsi ginjal tidak lagi normal (AAKP, 2005). CAPD yang lazim digunakan adalah Continous Cycling Peritoneal Dialysis (CAPD), dimana pada proses CAPD penderita melakukan sendiri tindakan medis tanpa bantuan mesin biasanya berlanngsung 4 kali sehari masing-masing selama 30 menit. Peritoneal Dialysis menggunakan peritoneum – sebuah membrane alami yang bersifat semipermeable yang menutupi organ dalam abdomen dan membatasi dinding abdomen yang dimiliki oleh pasien. Membrane ini berperan sebgai filter. Peritoneum adalah membrane berpori yang dapat menyaring toksin dan cairan dari darah. Indikasi medik CAPD, yaitu pasien anak-anak dan orang tua (umur lebih dari 65 tahun), pasien-pasien yang telah menderita penyakit sistem kardiovaskular, pasien-pasien yang cenderung akan mengalami perdarahan bila dilakukan hemodialisis, kesulitan pembuatan AV shunting, pasien dengan stroke, pasien GGT (gagal ginjal terminal) dengan residual urin masih cukup, dan pasien nefropati diabetik disertai co-morbidity dan co-mortality. Indikasi non-medik, yaitu keinginan pasien sendiri, tingkat intelektual tinggi untuk melakukan sendiri (mandiri), dan di daerah yang jauh dari pusat ginjal (Sukandar, 2006).

3.        Transplantasi ginjal

Transplantasi ginjal merupakan terapi pengganti utama karena sudah terbukti lebih baik dibandingkan dengan dialysis terutama dalam perbaikan kualitas hidup, salah satunya adalah tercapainya tingkat kesegaran jasmani yang lebih baik. Transplantasi ginjal yang berhasil sebenarnya merupakan cara penanganan gagal ginjal yang paling ideal, karena dapat mengatasi seluruh jenis penurunan fungsi ginjal. Yang mana dilain pihak, dialysis hanya mengatasi akibat sebagian jenis penurunan fungsi ginjal.

 

G.      PENGKAJIAN KEPERAWATAN

1.     

 
Aktivitas / istirahat

Gejala: Kelelahan ekstrem, kelemahan, malaise, gangguan tidur (insomnia / gelisah atau somnolen)

Tanda: Kelemahan otot, kehilangan tonus, penurunan rentang gerak

2.      Sirkulasi

Gejala: riwayat hipertensi lama, atau berat, palpitasi, nyeri dada (angina)

Tanda: Hipertensi, nadi kuat,edema jaringan umum dan pitting pada kaki, telapak,tangan, disritmia jantung. Nadi lemah halus,hipotensi ortostatik menunjukan hipovolemia, pucat, kecenderungan perdarahan.

3.      Integritas ego

Gejala: Factor stress, contoh financial, hubungan dan sebagainya, perasaan tak berdaya, tak ada harapan, tak ada kekuatan.

Tanda: Menolak, ansietas, takut, marah, mudah terangsang, perubahan kepribadian

4.      Eliminasi

Gejala: Penurunan frekuensi urine, oliguria, anuria, abdomen kembung, diare, atau konstipasi.

Tanda: Perubahan warna urine, contoh kuning pekat, merah, cokelat,berawan, oliguria, dapat menjadi anuria.

5.      Makanan/ cairan

Gejala: Peningkatan berat badan cepat (edema), penuruna berat badan (malnutrisi), anoreksia, nyeri ulu hati, mual/muntah, rasa metalik tak sedap di mulut (pernapasan amonia), penggunaan diuretic

Tanda: Distensi abdomen / asites, pembesaran hati,, perubahan turgor kulit / kelembaban, edema (umum,tergantung), ulserasi gusi, perdarahan gusi / lidah, penurunan oto, penurunan lemak subkutan, penampilan tak bertenaga.

6.      Neurosensori

Gejala: Sakit kepala, penglihatan kabur, kram otot/kejang, sindrom “ kaki gelisah”,

Tanda: Gangguan status mental, contoh penurunan lapang perhatian, ketidakmampuan berkosentrasi, kehilangan memori, kacau, penurunan tingkat kesadaran, stupor, koma, rambut tipis, kuku rapuh dan tipis.

7.      Nyeri / kenyamanan

Gejala: Nyeri panggul, sakit kepala ; kram otot/nyeri kaki (memburuk saat malam hari)

Tanda: Perilaku berhati-hati/ distraksi, gelisah.

8.      Pernapasan

Gejala: napas pendek ; dispnea nocturnal paroksimal ; batuk dengan / tanpa sputum kental dan banyak.

Tanda: Takipnea, dispnea, peningkatan frekuensi / kedalaman (pernapasan kusmaul), batuk produktif dengan sputum merah muda – encer (edema paru).

9.      Keamanan

Gejala: Kulit gatal, ada/ berulangnya infeksi

Tanda: Pruritus, demam,(sepsis, dehidrasi), normotermia dapat secara actual terjdai peningkatan pada pasie yang mengalami suhu tubuh lebih rendah dari normal., petechie,

10.  Seksualitas

Gejala: Penurunan libido ; amenorea ; infertilitas

11.  Interaksi social

Gejala: kesulitan menentukan kondisi, contoh tak mampu bekerja, mempertahankn fungsi peran biasanya dalam keluarga.

12.  Penyuluhan / Pembelajaran

Gejala: riwayat DM keluarga (resiko tinggi untuk gagal ginjal), penyakit polikistik, nefritis herediter, kalkulus urinaria, malignasi, riwayat terpajan oleh toksin, contoh, obat, racun lingkungan

 

H.      DIAGNOSA KEPERAWATAN

1.      Kelebihan volume cairan berhubungan dengan penurunan haluaran urine, retensi cairan dan natrium.

2.      Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan edema paru, asidosis metabolic, pneumonitis, perikarditis

3.      Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake makanan yang inadekuat (mual, muntah, anoreksia dll).

4.      Intoleransi aktivitas berhubungan dengan keletihan/kelemahan, anemia, retensi produk sampah dan prosedur dialysis.

5.      Gangguan integritas kulit berhubungan dengan penumpukan ureum di kulit

 

I.         INTERVENSI KEPERAWATAN

1.        Diagnosa Keperawatan 1

Kelebihan volume cairan berhubungan dengan penurunan haluaran urine, retensi cairan dan natrium.

Definisi

Peningkatan retensi cairan isotonik

Batasan Karakteristik

a. Mayor

Ansietas

Dispnea

Gelisah

b. Minor

Suara nafas tidak normal (rale atau crackle)

Perubahan elektrolit

Anasarka

Ansietas

Azotemia

Perubahan td

Edema

Ortopnea

Perubahan berat jenis urine

Efusi pleura

Asupan melebihi haluaran

Distensi vena jugularis

Oliguria

Tujuan           :

 

Kriteria Hasil :

 

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan volume cairan seimbang

-      Terbebas dari edema, efusi, anasarka

-      Bunyi nafas bersih, tidak adanya dipsnea

-      Terbebas dari distensi vena jugularis

-      Memelihara tekanan vena sentral, tekanan kapiler paru, output jantung dan vital sign DBN

 

Rencana Intervensi :

Rencana Intervensi

Rasional

a.        Kaji status cairan; timbang berat badan, keseimbangan masukan dan haluaran, turgor kulit dan adanya edema

b.       Batasi masukan cairan

 

c.        Identifikasi sumber potensial cairan

 

d.       Jelaskan pada pasien dan keluarga rasional pembatasan cairan

e.        Kolaborasi pemberian cairan sesuai terapi

a.       Pengkajian merupakan data dasar berkelanjutan untuk memantau perubahan dan mengevaluasi intervensi

b.      Pembatasan cairan akan menentuka berat tubuh ideal, haluaran urin,dan respon terhadap terapi.

c.       Sumber kelebihan cairan yang tidak diketahui dapat diidentifikasi.

d.      Pemahaman meningkatkan kerjasama pasien dan keluarga dalam pembatasan cairan

e.       Mempercepat pengurangan kelebihan cairan

 

2.      Diagnosa Keperawatan 2

Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan edema paru, asidosis metabolic, pneumonitis, perikarditis

Definisi

Inspirasi/ekspirasi yang tidak memberi ventilasi yang adekuat

Batasan Karakteristik

a. Mayor

Dispnea

Napas pendek

b. Minor

Perubahan ekskursi dada

Bradipnea

Penurunan tekanan inspirasi-ekspirasi

Napas cuping hidung

Ortopnea

Fase ekspirasi memanjang

Penggunaan otot bantu asesorius untuk bernapas

Kecepatan respirasi

Usia dewasa 14 tahun atau lebih: <11 atau lebih >24 kali permenit

Usia 5-14: <15 atau >25

Usia 1-4: <20 atau > 60

Bayi: <25 atau >60

Takipnea

Tujuan           :

 

Kriteria Hasil :

 

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam pola nafas klien kembali efektif

-         Tidak ada dispnea

-         Kedalaman nafas normal

-         Tidak ada retraksi dada / penggunaan otot bantuan pernafasan

 

Rencana Intervensi :

Rencana Intervensi

Rasional

a.        Kaji frekuensi, bunyi napas, serta kedalaman

 

b.       Ajarkan pasien nafas dalam

 

c.        Posisikan pasien semifowler

d.       Batasi untuk beraktivitas

 

e.        Kolaborasi pemberian oksigen

a.       Peningkatan frekuensi pernafasan mengindikasikasi pasien sesak

b.      Mengatur pola nafas agar suplai o2 dapat terpenuhi

c.       Memaksimalkan ekpansi paru

d.      Mengurangi beban kerja dan mencegah terjadinya sesak atau hipoksia

e.       Mengurangi sesak

 

3.      Diagnosa Keperawatan 3

Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake makanan yang inadekuat (mual, muntah, anoreksia dll).

Definisi

Asupan nutrisi tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan metabolik

Batasan Karakteristik

a. Mayor

kram abdomen

nyeri abdomen

menolak makan

persepsi ketidakmampuan untuk makan

merasa cepat kenyang

b. Minor

diare atau konstipasi

adanya bukti kekurangan makanan

kehilangan rambut yang berlebihan

bising usus hiperaktif

membran mukosa pucat

tonus otot buruk

menolak untu makan

kelemahan otot yang berfungsi untuk menelan/mengunyah.

Tujuan           :

Kriteria Hasil :

 

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 5x24 jam nutrisi klien terpenuhi

-         Nafsu makan meningkat

-         Tidak terjadi penurunan BB

-         Masukan nutrisi adekuat

-         Menghabiskan porsi makan

-         Hasil lab normal (albumin, kalium)

Rencana Intervensi :

Rencana Intervensi

Rasional

a.        Awasi konsumsi makanan / cairan

b.       Perhatikan adanya mual dan muntah

 

 

c.        Berikan makanan sedikit tapi sering

 

d.       Berikan perawatan mulut sering

 

 

e.        Kolaborasi dengan ahli gizi dalam pemberian diet sesuai terapi

a.       Mengidentifikasi kekurangan nutrisi

b.      Gejala yang menyertai akumulasi toksin endogen yang dapat mengubah atau menurunkan pemasukan dan memerlukan intervensi

c.       Porsi lebih kecil dapat meningkatkan masukan makanan

d.      Menurunkan ketidaknyamanan stomatitis oral dan rasa tak disukai dalam mulut yang dapat mempengaruhi masukan makanan

e.       Memenuhi nutrisi pasien secara adekuat

J.      REFERENSI

Doenges E,  Marilynn, dkk. (1999). Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk Perancanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Edisi 3. Jakarta : EGC

Anonym. 2012. Askep CKD (Chronic Kidney Disease). http://sumbberilmu.blogspot.com/2012/12/askep-ckd-chronik-kidney-desease.html. diakses pada 21/02/2015 pukul 20.00

Wilkinson, Judith M & Ahern, Nancy R. 2013. Buku Saku Diagnosis Keperawatan Edisi 9. Jakarta: EGC