LAPORAN PENDAHULUAN
A. PENGERTIAN
Chronik Kidney Desease adalah : gangguan fungsi
renal yang progresif dan irreversible dimana kemampuan tubuh gagal untuk
memperhatikan metabolisme keseimbangan cairan dan elektrolit menyebabkan uremia
(retensi urea dan sampah nitrogen lain dalam darah). (Brunner & Suddarth.
2002).
Chronik Kidney Desease biasanya akibat akhir dari
kehilangan fungsi ginjal lanjut secara bertahap. Penyebab termasuk
glomerulonefritis, infeksi kronis dan penyakit vaskular , penyakit agen
nefrotik dan penyakit endokrin (Marlynn E. Doenges. 2000)
B. ETIOLOGI
Gagal ginjal kronik merupakan suatu keadaan klinis kerusakan ginjal yang progresif dan irreversible dari berbagai penyebab. Sebab-sebab gagal ginjal kronik yang sering ditemukan dapat dibagi menjadi delapan kelas.
Klasifikasi sebab-sebab gagal ginjal kronik :
a. Infeksi
:
Pielonefritis kronik
b. Penyakit
peradangan : Glomerulonefritis
c.
Penyakit vascular hipertensi : Nefrosklerosis benigna, nefrosklerosis maligna, stenosis arteria
renalis.
d. Gangguan
jaringan penyambung : Lupus eritematosus sistemik, Poliarteritis
nodosa, sklerosis sistemik
progresif.
e.
Gangguan kongerital dan hereditas : Penyakit
ginjal polikistik, asidosis tubulus ginjal.
f.
Penyakit metabolic : Diabetes mellitus, gout, hiperparatiroidisme,
amiloidosis.
g.
Nefropati toksik : Penyalahgunaan
analgesik, nefropati timbale
h. Nefropati
obstruktif : Saluran kemih bagian atas kalkuli, neoplasma,
fibrosisretroperitoneal.
i.
Saluran kemih bagian bawah : hipertropi prostate, struktur urea, anomaly kongenital pada
leher
kandung kemih dan uretra.
C. KLASIFIKASI
Gagal ginjal kronik dibagi 3 stadium :
a.
Stadium I
Penurunan
cadangan ginjal, kreatinin serum dan kadar BUN normal, asimptomatik, tes beban
kerja pada ginjal: pemekatan kemih, tes GFR
b.
Stadium II
Insufisiensi
ginjal, kadar BUN meningkat (tergantung pada kadar protein dalam diet), kadar
kreatinin serum meningkat, nokturia dan poliuri (karena kegagalan
pemekatan). Ada 3 derajat insufisiensi ginjal:
1)
Ringan : 40% - 80% fungsi ginjal dalam keadaan
normal
2)
Sedang : 15% - 40% fungsi ginjal normal
3)
Kondisi berat : 2% - 20% fungsi ginjal normal
c.
Stadium III
Gagal ginjal
stadium akhir atau uremia, kadar ureum dan kreatinin sangat meningkat, ginjal
sudah tidak dapat menjaga homeostasis cairan dan elektrolit, air kemih/urin
isoosmotis dengan plasma, dengan BJ 1,010 (Smeltzer,2001).
K/DOQI merekomendasikan pembagian CKD
berdasarkan stadium dari tingkat penurunan LFG :
a. Stadium 1 : kelainan ginjal yang ditandai dengan
albuminaria persisten dan LFG yang masih
normal ( > 90 ml / menit / 1,73 m2)
b.
Stadium 2
:
Kelainan ginjal dengan albuminaria
persisten dan LFG antara 60-89 mL/menit/1,73 m2
c.
Stadium 3 : Kelainan ginjal dengan LFG antara 30-59
mL/menit/1,73m2
d.
Stadium 4 : Kelainan
ginjal dengan LFG antara 15-29mL/menit/1,73m2
e.
Stadium 5
: Kelainan
ginjal dengan LFG < 15mL/menit/1,73m2 atau gagal ginjal terminal.
D. MANIFESTASI KLINIS
Manifestasi klinik menurut (Smeltzer, 2001) antara
lain : hipertensi, (akibat retensi cairan dan natrium dari aktivitas sisyem
renin - angiotensin - aldosteron), gagal jantung kongestif dan udem pulmoner
(akibat cairan berlebihan) dan perikarditis (akibat iriotasi pada lapisan
perikardial oleh toksik, pruritis, anoreksia, mual, muntah, dan cegukan,
kedutan otot, kejang, perubahan tingkat kesadaran, tidak mampu berkonsentrasi).
Manifestasi klinik menurut Suyono (2001) adalah
sebagai berikut:
a.
Gangguan kardiovaskuler
Hipertensi,
nyeri dada, dan sesak nafas akibat perikarditis, effusi perikardiac dan gagal
jantung akibat penimbunan cairan, gangguan irama jantung dan edema.
b.
Gangguan
Pulmoner
Nafas dangkal,
kussmaul, batuk dengan sputum kental dan riak, suara krekels.
c.
Gangguan gastrointestinal
Anoreksia,
nausea, dan fomitus yang berhubungan dengan metabolisme protein dalam usus,
perdarahan pada saluran gastrointestinal, ulserasi dan perdarahan mulut, nafas
bau ammonia.
d.
Gangguan musculoskeletal
Resiles leg
sindrom (pegal pada kakinya sehingga selalu digerakan), burning feet syndrom (rasa
kesemutan dan terbakar, terutama ditelapak kaki), tremor, miopati (kelemahan
dan hipertropi otot – otot ekstremitas)
e.
Gangguan
Integumen
kulit berwarna
pucat akibat anemia dan kekuning – kuningan akibat penimbunan urokrom, gatal –
gatal akibat toksik, kuku tipis dan rapuh.
f.
Gangguan
endokrin
Gangguan seksual
: libido fertilitas dan ereksi menurun, gangguan menstruasi dan aminore.
Gangguan metabolic glukosa, gangguan metabolic lemak dan vitamin D.
g.
Gangguan cairan
elektrolit dan keseimbangan asam dan basa
biasanya retensi
garam dan air tetapi dapat juga terjadi kehilangan natrium dan dehidrasi,
asidosis, hiperkalemia, hipomagnesemia, hipokalsemia.
h.
System
hematologi
anemia yang
disebabkan karena berkurangnya produksi eritopoetin, sehingga rangsangan
eritopoesis pada sumsum tulang berkurang, hemolisis akibat berkurangnya masa
hidup eritrosit dalam suasana uremia toksik, dapat juga terjadi gangguan fungsi
trombosis dan trombositopeni.
E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1.
Radiologi
Ditujukan untuk menilai keadaan ginjal dan menilai
derajat dari komplikasi yang terjadi
2.
Foto polos abdomen
Untuk menilai bentuk dan besar ginjal apakah ada batu
atau obstruksi lain. Dehidrasi akan memperburuk keadaan ginjal oleh sebab itu
klien diharapkan tidak puasa
3.
IVP (intra Vena Pielografi)
Untuk menilai system pelviokalises dan ureter.
Pemeriksaan ini mempunyai resiko penurunan faal ginjal pada keadaan tertentu,
missal: usia lanjut, DM, dan nefropati asam urat
4.
USG
Untuk menilai besar dan bentuk ginjal, tebal parenkim
ginkal, kepadatan parenkim ginjal, anatomi system pelviokalises, ureter
proksimal, kandung kemih serta prostat
5.
Renogram
Untuk menilai fungsi ginjal kanan dan kiri, lokasi
dari gangguan (vaskuler, parenkim, ekskresi), serta sisa fungsi ginjal
6.
Pemeriksaan radiologi jantung : untuk mencari
kardiomegali, efusi perikardial
7.
Pemeriksaan radiologi paru : untuk mencari uremik lung
yang dianggap sebagai bendungan
8.
EKG, untuk melihat kemungkinana hipertropi ventrikel
kiri, tanda perikarditis, aritmia, hiperkalemia
9.
Pemeriksaan laboratorium
1) Pemeriksaan Urine
a) Volume : Biasanya kurang dari 400 ml / 24 jam atau
urine tak ada (anuria)
b) Warna : Secara abnormal urine keruh mungkin
disebabkan oleh pus bakteri, lemah, partikel koloid, fosfat atau urat.
c) Berat jenis : Kurang dari 1,05 (menetap pada 1,010
menunjukkan kerusakan ginjal berat).
d) Osmolaritas : Kurang dari 300 mosm / kg menunjukkan
kerusakan tubular dan rasio urine serum sering 1 : 1.
e) Klirens Kreatinin : Mungkin agak menurun.stadium
satu CCT(40-70ml/menit), stadium kedua, CCT (20-40ml/menit) dan stadium ketiga,
CCT(5 ml/menit)
f)
Natrium : Lebih
besar dari 40 g/dl, karena ginjal tidak mampu mereabsorpsi natrium. (135-145
g/dL)
g) Protein : Derajat tinggi proteinuria (3 – 4 + )
secara kuat menunjukkan kerusakan glomerulus bila SDM dan fragmen juga ada.
2) Darah
a) BUN/Kreatinin : Meningkat, biasanya meningkat dalam
proporsi, kadar kreatinin 10 mg/dl. Diduga batas akhir mungkin rendah yaitu 5
b) Hitung darah lengkap : Ht namun pula adanya anemia
Hb : kurang dari 7 – 8 9/dl, Hb untuk perempuan (13-15 g/dL), laki-laki (13-16
g/dL)
c) SDM : Waktu hidup menurun pada defesiensi
eriropoetin seperti pada azotemia.
3) GDA
a) PH : penurunan asidosis (kurang dari 7,2) terjadi
karena kehilangan kemampuan ginjal untuk mengekskresi hidrogen dan amonia atau
hasil akhir katabolisme protein. Bikarbonat menurun PCO2 menurun natrium serum
mungkin rendah (bila ginjal ”kehabisan” natrium atau normal (menunjukkan status
difusi hipematremia)
b) Kalium : Peningkatan normal (3,5- 5,5 g/dL)
sehubungan dengan rotasi sesuai dengan perpindahan selular (asidosis) atau
pengeluaran jaringan (hemolisis SDM) pada tahap akhir pembahan EKG mungkin
tidak terjadi sampai umum gas mengolah lebih besar.
c) Magnesium / fosfat meningkat di intraseluler : (27
g/dL), plasma (3 g/dL), cairan intersisial (1,5 g/dL).
d) Kalsium : menurun. Intra seluler (2 g/dL), plasma
darah (5 g/dL), cairan intersisial (2,5 g/dL)
e) Protein (khususnya albumin 3,5-5,0 g/dL) : kadar
semua menurun dapat menunjukkan kehilangan protein melalui urine pemindahan
cairan penurunan pemasukan atau penurunan sintesis karena asam amino esensial.
f)
Osmolalitas
serum : lebih besar dari 285 mos m/kg. Sering sama dengan urine Kub Foto :
menunjukkan ukuran ginjal / ureter / kandug kemih dan adanya obstruksi (batu)
g) Pielogram retrograd : Menunjukkan abnormalitas
pelvis ginjal dan ureter
F. PENATALAKSANAAN
Menurut Sylvia Price (2000) adalah sebagai berikut :
a.
Penatalaksanaan
Medis
1)
Obat anti
hipertensi yang sering dipakai adalah Metildopa (Aldomet), propanolol dan
klonidin. Obat diuretik yang dipakai adalah furosemid (lasix).
2)
Hiperkalemia
akut dapat diobati dengan pemberian glukosa dan insulin intravena yang
memasukan K+ ke dalam sel, atau dengan pemberian kalsium glukonat 10%
intravena dengan hati-hati sementara EKG terus diawasi. Bila kadar
K+ tidak dapat diturunkan dengan dialisis, maka dapat digunakan resin
penukar kation natrium polistiren sulfonat (Kayexalate).
3)
Pengobatan untuk
anemia yaitu : rekombinasi eritropoetin (r-EPO) secara meluas, saat ini
pengobatan untuk anemia uremik : dengan memperkecil kehilangan darah, pemberian
vitamin, androgen untuk wanita, depotestoteron untuk pria dan transfusi darah.
4)
Asidosis dapat
tercetus bilamana suatu asidosis akut terjadi pada penderita yang sebelumnya
sudah mengalami asidosis kronik ringan, pada diare berat yang disertai
kehilangan HCO3. Bila asidosis berat akan dikoreksi dengan pemberian pemberian
NaHCO3 parenteral.
5)
Dialisis : suatu
proses dimana solut dan air mengalir difusi secara pasif melalui suatu membran
berpori dari suatu kompartemen cair menuju kompartemen lainnya.
6)
Dialisis
peritoneal : merupakan alternatif dari hemodialisis pada penanganan gagal
ginjal akut dan kronik.
7)
Pada orang
dewasa, 2 L cairan dialisis steril dibiarkan mengalir ke dalam rongga
peritoneal melalui kateter selama 10-20 menit. Biasanya keseimbangan cairan
dialisis dan membran semipermeabel peritoneal yang banyak vaskularisasinya akan
tercapai setelah dibiarkan selama 30 menit.
8)
Transplantasi
ginjal : prosedur standarnya adalah memutar ginjal donor dan menempatkannya
pada fosa iliaka pasien sisi kontralateral. Dengan demikian ureter terletak di
sebelah anterior dari pembuluh darah ginjal, dan lebih mudah dianastomosis atau
ditanamkan ke dalam kandung kemih resipien.
b.
Penatalaksanaan
Keperawatan
Mempertahankan
keseimbangan cairan dan elektrolit, penimbangan berat badan setiap hari, batasi
masukan kalium sampai 40-60 mEq/hr, mengkaji daerah edema.
c.
Penatalaksanaan
diit
Tinggi
karbohidrat, rendah protein, rendah natrium, batasi diit rendah protein sampai
mendekati 1 g / kg BB selama fase oliguri. Untuk meminimalkan pemecahan protein
dan untuk mencegah penumpukan hasil akhir toksik. Batasi makanan dan cairan
yang mengandung kalium dan fosfor (pisang, buah dan jus-jusan serta kopi).
d.
Terapi Pengganti
1.
Hemodialisa
Terapi
hemodialisa merupakan teknologi tinggi sebagai terapi pengganti untuk
mengeluarkan sisa-sisa metabolisme atau racun tertentu dari peredaran darah
manusia seperti air, natrium, kalium, hidrogen, urea, kreatinin, asam urat, dan
zat-zat lain melalui membran semi permiabel sebagai pemisah darah dan cairan
dialisat pada ginjal buatan dimana terjadi proses difusi, osmosis dan
ultrafiltrasi (Brunner & Suddarth, 2002).
Tujuan
Hemodialisa adalah untuk mengambil zat-zat nitrogen yang toksik dari dalam
darah dan mengeluarkan air yang berlebihan. Pada hemodialisa, aliran darah yang
penuh dengan toksik dan limbah nitrogen dialihkan dari tubuh pasien ke dialiser
tempat darah tersebut dibersihkan dan kemudian dikembalikan lagi ke tubuh
pasien (Brunner & Suddarth, 2002).
2.
CAPD (continous Ambulatory Peritoneal Dialysis)
CAPD adalah salah satu treatment yang tersedia dan
digunakan untuk membuang produk sisa dan kelebihan cairan dari darah ketika
fungsi ginjal tidak lagi normal (AAKP, 2005). CAPD yang lazim digunakan adalah
Continous Cycling Peritoneal Dialysis (CAPD), dimana pada proses CAPD penderita
melakukan sendiri tindakan medis tanpa bantuan mesin biasanya berlanngsung 4
kali sehari masing-masing selama 30 menit. Peritoneal Dialysis menggunakan
peritoneum – sebuah membrane alami yang bersifat semipermeable yang menutupi
organ dalam abdomen dan membatasi dinding abdomen yang dimiliki oleh pasien.
Membrane ini berperan sebgai filter. Peritoneum adalah membrane berpori yang
dapat menyaring toksin dan cairan dari darah. Indikasi medik CAPD, yaitu pasien
anak-anak dan orang tua (umur lebih dari 65 tahun), pasien-pasien yang telah
menderita penyakit sistem kardiovaskular, pasien-pasien yang cenderung akan
mengalami perdarahan bila dilakukan hemodialisis, kesulitan pembuatan AV
shunting, pasien dengan stroke, pasien GGT (gagal ginjal terminal) dengan
residual urin masih cukup, dan pasien nefropati diabetik disertai co-morbidity
dan co-mortality. Indikasi non-medik, yaitu keinginan pasien sendiri, tingkat
intelektual tinggi untuk melakukan sendiri (mandiri), dan di daerah yang jauh
dari pusat ginjal (Sukandar, 2006).
3.
Transplantasi ginjal
Transplantasi ginjal merupakan terapi pengganti utama
karena sudah terbukti lebih baik dibandingkan dengan dialysis terutama dalam
perbaikan kualitas hidup, salah satunya adalah tercapainya tingkat kesegaran
jasmani yang lebih baik. Transplantasi ginjal yang berhasil sebenarnya
merupakan cara penanganan gagal ginjal yang paling ideal, karena dapat
mengatasi seluruh jenis penurunan fungsi ginjal. Yang mana dilain pihak,
dialysis hanya mengatasi akibat sebagian jenis penurunan fungsi ginjal.
G. PENGKAJIAN KEPERAWATAN
1.
Aktivitas / istirahat
![]()
Gejala: Kelelahan ekstrem, kelemahan, malaise,
gangguan tidur (insomnia / gelisah atau somnolen)
Tanda: Kelemahan otot, kehilangan tonus, penurunan
rentang gerak
2.
Sirkulasi
Gejala: riwayat hipertensi lama, atau berat,
palpitasi, nyeri dada (angina)
Tanda: Hipertensi, nadi kuat,edema jaringan umum dan
pitting pada kaki, telapak,tangan, disritmia jantung. Nadi lemah
halus,hipotensi ortostatik menunjukan hipovolemia, pucat, kecenderungan
perdarahan.
3.
Integritas ego
Gejala: Factor stress, contoh financial, hubungan dan
sebagainya, perasaan tak berdaya, tak ada harapan, tak ada kekuatan.
Tanda: Menolak, ansietas, takut, marah, mudah
terangsang, perubahan kepribadian
4.
Eliminasi
Gejala: Penurunan frekuensi urine, oliguria, anuria,
abdomen kembung, diare, atau konstipasi.
Tanda: Perubahan warna urine, contoh kuning pekat,
merah, cokelat,berawan, oliguria, dapat menjadi anuria.
5.
Makanan/ cairan
Gejala: Peningkatan berat badan cepat (edema),
penuruna berat badan (malnutrisi), anoreksia, nyeri ulu hati, mual/muntah, rasa
metalik tak sedap di mulut (pernapasan amonia), penggunaan diuretic
Tanda: Distensi abdomen / asites, pembesaran hati,,
perubahan turgor kulit / kelembaban, edema (umum,tergantung), ulserasi gusi,
perdarahan gusi / lidah, penurunan oto, penurunan lemak subkutan, penampilan
tak bertenaga.
6.
Neurosensori
Gejala: Sakit kepala, penglihatan kabur, kram
otot/kejang, sindrom “ kaki gelisah”,
Tanda: Gangguan status mental, contoh penurunan lapang
perhatian, ketidakmampuan berkosentrasi, kehilangan memori, kacau, penurunan
tingkat kesadaran, stupor, koma, rambut tipis, kuku rapuh dan tipis.
7.
Nyeri / kenyamanan
Gejala: Nyeri panggul, sakit kepala ; kram otot/nyeri
kaki (memburuk saat malam hari)
Tanda: Perilaku berhati-hati/ distraksi, gelisah.
8.
Pernapasan
Gejala: napas pendek ; dispnea nocturnal paroksimal ;
batuk dengan / tanpa sputum kental dan banyak.
Tanda: Takipnea, dispnea, peningkatan frekuensi /
kedalaman (pernapasan kusmaul), batuk produktif dengan sputum merah muda –
encer (edema paru).
9.
Keamanan
Gejala: Kulit gatal, ada/ berulangnya infeksi
Tanda: Pruritus, demam,(sepsis, dehidrasi),
normotermia dapat secara actual terjdai peningkatan pada pasie yang mengalami
suhu tubuh lebih rendah dari normal., petechie,
10. Seksualitas
Gejala: Penurunan libido ; amenorea ; infertilitas
11. Interaksi social
Gejala: kesulitan menentukan kondisi, contoh tak mampu
bekerja, mempertahankn fungsi peran biasanya dalam keluarga.
12. Penyuluhan /
Pembelajaran
Gejala: riwayat DM keluarga (resiko tinggi untuk gagal
ginjal), penyakit polikistik, nefritis herediter, kalkulus urinaria, malignasi, riwayat terpajan oleh
toksin, contoh, obat, racun lingkungan
H.
DIAGNOSA
KEPERAWATAN
1. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan penurunan
haluaran urine, retensi cairan dan natrium.
2. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan edema
paru, asidosis metabolic, pneumonitis, perikarditis
3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan
tubuh berhubungan dengan intake makanan yang inadekuat (mual, muntah, anoreksia
dll).
4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan keletihan/kelemahan,
anemia, retensi produk sampah dan prosedur dialysis.
5. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan
penumpukan ureum di kulit
I.
INTERVENSI
KEPERAWATAN
1.
Diagnosa
Keperawatan 1
Kelebihan volume cairan
berhubungan dengan penurunan haluaran urine, retensi cairan dan natrium.
Definisi
Peningkatan
retensi cairan isotonik
Batasan Karakteristik
a. Mayor
Ansietas
Dispnea
Gelisah
b. Minor
|
Suara nafas tidak normal (rale
atau crackle) Perubahan
elektrolit Anasarka Ansietas Azotemia Perubahan td Edema |
Ortopnea Perubahan
berat jenis urine Efusi pleura Asupan
melebihi haluaran Distensi vena jugularis Oliguria |
||
|
Tujuan : Kriteria Hasil : |
Setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama 3x24 jam diharapkan volume cairan seimbang -
Terbebas dari edema, efusi, anasarka -
Bunyi nafas bersih, tidak adanya dipsnea -
Terbebas dari distensi vena jugularis -
Memelihara tekanan vena sentral, tekanan kapiler paru,
output jantung dan vital sign DBN |
|
|
Rencana Intervensi :
|
Rencana
Intervensi |
Rasional |
|
a.
Kaji status cairan; timbang berat
badan, keseimbangan masukan dan haluaran, turgor kulit dan adanya edema b. Batasi
masukan cairan c.
Identifikasi sumber potensial
cairan d. Jelaskan
pada pasien dan keluarga rasional pembatasan cairan e.
Kolaborasi pemberian cairan
sesuai terapi |
a. Pengkajian merupakan data dasar berkelanjutan untuk memantau perubahan dan mengevaluasi intervensi b. Pembatasan
cairan akan menentuka berat tubuh ideal, haluaran urin,dan respon terhadap
terapi. c. Sumber
kelebihan cairan yang tidak diketahui dapat diidentifikasi. d. Pemahaman meningkatkan kerjasama pasien dan keluarga dalam pembatasan cairan e. Mempercepat pengurangan kelebihan cairan |
2. Diagnosa Keperawatan 2
Pola nafas tidak
efektif berhubungan dengan edema paru, asidosis metabolic, pneumonitis,
perikarditis
Definisi
Inspirasi/ekspirasi
yang tidak memberi ventilasi yang adekuat
Batasan Karakteristik
a. Mayor
Dispnea
Napas pendek
b. Minor
|
Perubahan
ekskursi dada Bradipnea Penurunan
tekanan inspirasi-ekspirasi Napas cuping
hidung Ortopnea Fase
ekspirasi memanjang Penggunaan
otot bantu asesorius untuk bernapas |
Kecepatan respirasi Usia dewasa
14 tahun atau lebih: <11 atau lebih >24 kali permenit Usia 5-14:
<15 atau >25 Usia 1-4:
<20 atau > 60 Bayi: <25
atau >60 Takipnea |
||
|
Tujuan : Kriteria Hasil : |
Setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama 3x24 jam pola nafas klien kembali efektif -
Tidak ada dispnea -
Kedalaman nafas normal -
Tidak ada retraksi dada /
penggunaan otot bantuan pernafasan |
|
|
Rencana Intervensi :
|
Rencana Intervensi |
Rasional |
|
a.
Kaji frekuensi, bunyi napas, serta kedalaman b.
Ajarkan pasien nafas dalam c.
Posisikan pasien semifowler d.
Batasi untuk beraktivitas e.
Kolaborasi pemberian oksigen |
a.
Peningkatan frekuensi pernafasan mengindikasikasi pasien
sesak b.
Mengatur pola nafas agar suplai o2 dapat terpenuhi c.
Memaksimalkan ekpansi paru d. Mengurangi beban kerja
dan mencegah terjadinya sesak atau hipoksia e. Mengurangi sesak |
3. Diagnosa Keperawatan 3
Ketidakseimbangan
nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake makanan yang
inadekuat (mual, muntah, anoreksia dll).
Definisi
Asupan nutrisi
tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan metabolik
Batasan Karakteristik
a. Mayor
kram abdomen
nyeri abdomen
menolak makan
persepsi
ketidakmampuan untuk makan
merasa cepat
kenyang
b. Minor
|
diare atau
konstipasi adanya bukti
kekurangan makanan kehilangan
rambut yang berlebihan bising usus
hiperaktif |
membran mukosa pucat tonus otot buruk menolak untu makan kelemahan otot yang berfungsi untuk menelan/mengunyah. |
|
|
Tujuan : Kriteria Hasil : |
Setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama 5x24 jam nutrisi klien terpenuhi -
Nafsu makan meningkat -
Tidak terjadi penurunan BB -
Masukan nutrisi adekuat -
Menghabiskan porsi makan -
Hasil lab normal (albumin, kalium) |
|
Rencana Intervensi :
|
Rencana
Intervensi |
Rasional |
|
a.
Awasi konsumsi makanan / cairan b.
Perhatikan adanya mual dan muntah c.
Berikan makanan sedikit tapi
sering d.
Berikan perawatan mulut sering e.
Kolaborasi dengan ahli gizi dalam
pemberian diet sesuai terapi |
a. Mengidentifikasi kekurangan nutrisi b.
Gejala yang menyertai akumulasi
toksin endogen yang dapat mengubah atau menurunkan pemasukan dan memerlukan
intervensi c. Porsi lebih kecil dapat meningkatkan masukan makanan d. Menurunkan ketidaknyamanan stomatitis oral dan rasa tak disukai dalam mulut yang dapat mempengaruhi masukan makanan e. Memenuhi nutrisi pasien secara adekuat |
J. REFERENSI
Doenges E, Marilynn, dkk. (1999). Rencana Asuhan
Keperawatan : Pedoman Untuk Perancanaan dan
Pendokumentasian Perawatan Pasien. Edisi 3. Jakarta : EGC
Anonym. 2012. Askep CKD (Chronic Kidney Disease). http://sumbberilmu.blogspot.com/2012/12/askep-ckd-chronik-kidney-desease.html.
diakses pada 21/02/2015 pukul 20.00
Wilkinson, Judith M & Ahern, Nancy
R. 2013. Buku Saku Diagnosis Keperawatan
Edisi 9. Jakarta: EGC
Tidak ada komentar:
Posting Komentar